Nasib AKBP Basuki, Saksi Kunci Kematian Dosen Untag, Terancam Dipecat

Posted on

Karier AKBP Basuki Terancam Pecat

Kasus yang melibatkan Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Basuki kini menjadi sorotan publik setelah hubungan asmara antara dirinya dengan dosen Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang berinisial DLL terbongkar. Hubungan tersebut diketahui telah berlangsung selama beberapa tahun, bahkan hingga akhirnya menyebabkan karier AKBP Basuki menghadapi ancaman pemberhentian tidak dengan hormat (PTDH).

Sidang Etik Profesi Polri

Pihak kepolisian memastikan bahwa AKBP Basuki akan menjalani sidang kode etik profesi Polri sebelum masa penahanannya selama 20 hari berakhir. Informasi ini disampaikan langsung oleh Kepala Bidang Humas Polda Jateng, Kombes Pol Artanto. Menurutnya, sanksi terberat yang bisa diberikan adalah PTDH.

Artanto menegaskan, “Karena ini merupakan pelanggaran etik maka sanksi terberat adalah di PTDH (Pemberhentian Dengan Tidak Hormat/dipecat).”

Hubungan Asmara dan Tinggal Bersama

Selain itu, hasil pemeriksaan internal menunjukkan bahwa AKBP Basuki dan DLL memiliki hubungan pribadi. Fakta ini didapat dari pengakuan langsung AKBP Basuki ketika diperiksa Propam. Artanto menjelaskan, “Iya, mereka ada hubungan itu (asmara) dan mereka tinggal satu rumah. Ini dibuktikan dari keterangan AKBP B saat dilakukan penyelidikan oleh Propam.”

Penahanan selama 20 hari, terhitung sejak 19 November hingga 8 Desember 2025, dijatuhkan karena Basuki yang menjabat sebagai Kasubdit Pengendalian Massa (Dalmas) terbukti melakukan pelanggaran etik berat. Pelanggaran tersebut terkait tindakan Basuki yang tinggal dengan seorang wanita tanpa ikatan pernikahan resmi, sedangkan ia masih memiliki keluarga sah.

Penyelidikan dan Bukti Tambahan

Artanto menjelaskan bahwa hubungan asmara antara keduanya diduga sudah berlangsung sejak tahun 2020. Namun, ia menegaskan bahwa keterangan tersebut masih berasal satu pihak, yaitu Basuki sendiri. Karena itu, pihak penyidik masih membutuhkan bukti-bukti tambahan untuk memperkuat dan memastikan kronologinya.

“Untuk membuktikan keterangan itu, kami melakukan pemeriksaan kembali dan harus dilengkapi dengan bukti-bukti pendukung. Sehingga kronologis ini benar-benar betul dapat kita runtut pasalan maupun kronologis awal komunikasi maupun hubungan asmara ini,” tuturnya.

Selain itu, Artanto mengatakan bahwa selama hubungan tersebut berlangsung, AKBP Basuki dan DLL sempat tinggal dalam satu atap. Pada hari tewasnya DLL, Basuki bahkan berada di dalam kamar yang sama dengan korban.

Pengakuan Awal dan Keterlibatan dalam Kasus Kematian

Setelah menjadi saksi kunci terkait kasus kematian dosen Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang, DLL (35), AKBP Basuki akhirnya buka suara. Menjadi orang pertama yang melaporkan kematian Levi ke kepolisian, AKBP Basuki mengaku bahwa korban memiliki masalah kesehatan berupa tekanan darah dan kadar gula yang tinggi.

Bahkan, AKBP Basuki menyebut DLL sempat muntah-muntah sehari sebelum tewas dan membuat dirinya membawanya ke rumah sakit. Dia juga menyimpulkan kondisi DLL itu dipicu reaksi tubuhnya menjelang tewas. Selain itu, Basuki membantah adanya hubungan asmara dan hanya mengaku simpati kepada DLL karena kedua orang tuanya telah meninggal dunia.

Peringatan dari Senior Dosen Untag

Ternyata telah cukup lama dosen Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang, Dwinanda Linchia Levi (35) menjalin hubungan dengan Ajun komisaris Besar Polisi (AKBP) Basuki. Keduanya bahkan telah 5 tahun tinggal bersama. Beberapa dosen di kampus Untag sudah mengetahui hubungan tersebut.

Seorang dosen Kastubi mengungkap telah mengingatkan tiga hari sebelum korban meninggal dunia agar berhati-hati dengan polisi. Ia mengingatkan secara spontan karena banyak informasi polisi melakukan tindakan kekerasan kepada orang terdekatnya.

Penyebab Kematian Dosen Untag

Penyebab kematian Dwinanda Linchia Levi (DLL) dosen Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) akhirnya terungkap sudah dari hasil autopsi medis. RSUP Kariadi Semarang memberikan penjelasan terhadap pihak keluarga terkait pemicu tewasnya DLL. Tak ada tanda kekerasan, namun dokter menemukan indikasi aktivitas berlebihan yang menyebabkan jantung korban pecah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *