Ruben Amorim dan Kondisi Joshua Zirkzee di Manchester United
Pertandingan antara Manchester United melawan Nottingham Forest berakhir dengan hasil imbang 2-2, yang membuat Setan Merah kembali memperpanjang rekor tak terkalahkan mereka menjadi empat pertandingan. Gol penyeimbang dari Amad membawa tim pulang dengan satu poin, meskipun Forest sempat unggul dua gol sebelumnya.
Namun, salah satu hal yang menarik perhatian adalah keputusan pelatih Ruben Amorim dalam mengatur formasi dan rotasi pemain. Joshua Zirkzee, yang dijuluki “elit” oleh beberapa media, tidak mendapatkan kesempatan bermain secara reguler musim ini. Ia hanya tampil 90 menit sebagai pemain pengganti, dan bahkan tidak menjadi cadangan bagi Benjamin Sesko, yang juga tidak menunjukkan performa terbaiknya dalam pertandingan tersebut.
Zirkzee tampak frustrasi dengan jumlah menit bermainnya, terutama setelah klub memutuskan untuk melepas Rasmus Hojlund di musim panas. Ia tentu berharap bisa mendapatkan lebih banyak kesempatan bermain, terutama karena ia ingin memastikan waktu bermain yang konsisten menjelang Piala Dunia FIFA tahun depan. Meski ia menunjukkan fleksibilitas musim lalu, penampilannya saat ini masih belum cukup memenuhi ekspektasi pelatih asal Portugal tersebut.
Amorim menantang Zirkzee untuk terus berkembang, tetapi penampilannya yang menurun menunjukkan bahwa ia belum memenuhi harapan. Pelatih itu juga menyampaikan pendapatnya tentang rumor peminjaman Zirkzee dan Kobbie Mainoo, dengan mengatakan bahwa para pemain adalah bagian dari tim dan harus menjalani musim yang baik bersama klub.
Peran Benjamin Sesko dan Matheus Cunha
Benjamin Sesko, yang awalnya diharapkan bisa menjadi solusi di lini depan, tidak memberikan hasil yang memuaskan dalam pertandingan ini. Ia lebih efektif dalam bertahan dari bola mati, yang mungkin menjadi alasan Amorim mempertahankannya. Sementara itu, Matheus Cunha gagal melanjutkan penampilan gemilahnya setelah mencetak gol pertamanya untuk klub akhir pekan lalu.
Amorim juga menyebutkan bahwa situasi seperti ini sering terjadi dalam sepak bola. Ia menegaskan bahwa klub membutuhkan pemain yang bisa bermain di kotak penalti, dan sesuai dengan karakteristik pemain, Sesko dianggap sebagai pilihan terbaik.
Scott McTominay dan Kritik Roy Keane
Di sisi lain, Scott McTominay kini sedang menjalani musim terbaiknya bersama Napoli. Ia berhasil membawa klub meraih gelar Serie A keempat mereka, serta mencetak 13 gol liga. Performanya sangat mengesankan, hingga ia masuk dalam peringkat ke-18 dalam Ballon d’Or 2025, mengungguli nama-nama besar seperti Jude Bellingham dan Erling Haaland.
Namun, di masa lalu, McTominay sering dikritik oleh legenda Manchester United, Roy Keane. Ia mengklaim bahwa hubungan antara McTominay dan Fred tidak efektif, sehingga merusak reputasi pemain Skotlandia tersebut. Keane mengatakan bahwa kombinasi kedua pemain itu tidak bagus, dan mereka tidak mampu membawa Manchester United kembali bersaing di puncak.
Meski demikian, McTominay kini telah membuktikan dirinya sebagai pemain hebat di Napoli. Julukan “McFred” yang pernah menghiasi namanya kini berganti menjadi “McFratm,” sebuah istilah lucu yang menggabungkan namanya dengan kata “Fratm” dalam bahasa Napoli. Ini menunjukkan betapa banyak perubahan yang terjadi dalam kariernya sejak ia meninggalkan Old Trafford pada tahun 2024.
- Selama masa jabatannya sebagai manajer interim, Ralf Rangnick juga pernah memberikan peran yang kurang optimal kepada McTominay. Namun, kini ia telah membuktikan bahwa ia bisa sukses di luar Inggris.
- Fred, yang juga sering dikritik, kini tampil mengesankan di Turki bersama Fenerbahce, dengan delapan gol dan 16 assist sejak kepindahannya pada tahun 2023.
- Keane tidak malu mengkritik pasangan tersebut, bahkan pada tahun 2022, ia menyebut bahwa Fred dan McTominay tidak cukup bagus untuk Manchester United. Tapi kini, keberhasilan McTominay di Napoli menunjukkan bahwa masalah mungkin ada di klub, bukan kesalahan sang pemain.




