Marriage isn’t scary, cewek Gen Z tunjukin kalau karier dan keluarga bisa jalan bareng

Posted on

JAKARTA, PasarModern.com Marriage is scary jadi jargon yang dipercayain para Gen Z yang nggak percaya kalau nikah itu bisa bikin hidup lebih bahagia.

Nggak dipungkiri, menikah masih sering dianggap nakutin, khususnya buat perempuan. Takut hilang kebebasan, takut karir terhambat, atau bahkan makin scary kalau dapet pasangan yang nyuruh fokus di rumah dan ninggalin hobi-hobinya.

Hal-hal kayak gini yang intimidating buat para Gen Z. Alhasil mereka jadi mikir, nikahnya nanti-nanti aja kali ya?

Tapi empat perempuan Gen Z, Amelia, Putri, Nana, dan Rosmalia buktiin cerita yang berbeda. Buat mereka, menikah bukan game over dari kehidupan.

Sebaliknya, menikah juga tetep bisa bikin hidup lebih stabil, lebih hangat, dan tetap kasih ruang untuk tumbuh. Gimana sih cerita keempat cewek Gen Z ini?

Cerita cewek Gen Z yang buktiin nikah bukan penghalang dirinya

Nikah? Siapa takut!

Buat Amelia (28 tahun), menikah di usia 26 bukannya bikin ruang hidupnya mengecil, tapi justru menemukan pasangan yang bisa jadi teamwork sekaligus bikin dia stay true to herself.

Setelah pacaran enam tahun, perempuan bekerja sebagai karyawan swasta ini mantap menikah pada 2023.

“Aku nggak into laki-laki patriarki dan nggak bisa terlalu nurut sama laki-laki. Tapi ketika sama suami, aku bisa jadi diri sendiri dan punya porsi yang saling menyeimbangkan sama dia,” kata Amelia saat diwawancaraiPasarModern.com di Jakarta Pusat, Selasa (9/12/2025).

Bagi dia, kehadiran suami itu nggak serta merta merenggut kebebasan dia untuk ngelakuin apa yang dia suka. Bahkan dia tetep mandiri, tanpa perlu melewati batas yang wajar dalam hubungan.

Putri (27) juga punya cerita yang mirip. Setelah pacaran enam tahun, ia dilamar pada 2022 dan menikah di 2023.

Dua tahun kemudian ia dan suami akhirnya dikaruniai anak pertama. Sejak pacaran, mereka sudah membicarakan prinsip dan karakter masing-masing.

Ketika yakin buat nikah, bahasan soal perbedaan karakter atau kebiasaan rasanya udah basi banget buat dibahas lagi. Putri justru lebih fokus bahas kehidupan setelah pernikahan.

“Alhamdulillah-nya, kami sama-sama enggak ada tanggungan keluarga, karena keluarga kami cukup mandiri secara finansial dan menurut aku itu termasuk privilege kami,” ujarnya.

Buat Putri yang udah jadi karyawan swasta ini, kenyamanan menjalani karier setelah menikah juga dipengaruhi sikap sang suami yang nggak pernah menghalangi ia bekerja atau memilih jadi ibu rumah tangga.

Dukungan emosional dan finansial dari pekerjaan suaminya yang jadi karyawan BUMN juga bikin dia lumayan chill sama masa depan.

Ada juga Nana (28) yang nggak pernah ngebayangin bakal nikah sebelum usia 30. Tapi prinsipnya belok pas kenal calon suami lewat pekerjaan di tahun 2022. Hubungan yang awalnya sekadar urusan kantor berubah jadi hubungan serius.

“Akhirnya ada momen ketika gue merasa insecure dan kalo nggak diselesain sekarang itu pasti bisa berdampak ke pernikahan gue. Akhirnya kita obrolin di depan ibu gue dan dia memahami insecurity gue dan bikin hal tersebut ilang,” kisahnya.

Respons pasangannya yang sabar, dewasa, dan mampu memvalidasi perasaannya bikin Nana luluh dan yakin buat bangun rumah tangga bersama.

Sementara itu, Rosmalia (24) merasa pertemuannya dengan sang suami pada 2018 akhirnya ngebawa dia pada keputusan besar.

Setelah dua tahun dekat dan saling kenal, mereka mantap buat nikah pada 2022 dan punya anak di 2023.

“Kemudian saya berpikir bahwa menikah dengan dia mungkin menjadi salah satu tujuan saya sekarang, semua yang saya cari, ada di suami saya,” ujarnya.

Keputusan menikah juga dipengaruhi kondisi kedua orangtuanya yang mulai menua dan sakit, sehingga ia merasa sudah saatnya membangun keluarga dan pas banget udah ketemu orang yang tepat.

Sepakat soal karier dan masa depan

Bagi keempat perempuan Gen Z ini, pembicaraan soal masa depan sebelum menikah bukan hal tabu. Justru wajib banget supaya nggak ada yang bikin kaget pas udah nikah.

Amelia, misalnya, dia udah ngobrolin soal keturunan dan kemungkinan terburuk sebelum nikah.

“Aku juga bahas ke pasanganku soal perencanaan keturunan. Misalnya, apa yang dia lakukan kalau ternyata aku nggak bisa memberi keturunan untuk dia?” katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya membahas kondisi keluarga termasuk utang keluarga yang seringkali jadi beban moral. Jangan sampe udah sibuk kerjaan dan jadi istri, eh ada hutang yang menghantui.

Kalo pas pacaran bahasnya cuma ‘Lagi apa?’ atau ‘Udah belum?’, coba minggir dulu.

Soalnya, Putri dan suaminya justru berani ngajak ngobrol yang lebih serius soal kesehatan, ekonomi, dan rencana punya anak.

“Kemudian topik soal perencanaan anak juga kami omongin, supaya satu visi. Kebetulan suami setuju kalau mau punya anak tapi nggak langsung, jadi kami sempat menunda dulu 2 tahun,” tuturnya.

Sementara Nana yang bekerja sebagai karyawan swasta di bidang yang sama dengan sang suami juga membicarakan soal perannya setelah menikah.

Buat ibu satu anak ini, fleksibilitas dan enggak adanya tuntutan untuk berhenti bekerja bikin ia merasa aman.

Di sisi lain, Rosmalia lebih dulu nge-interview pasangannya dengan pertanyaan yang menurutnya krusial dalam hubungan jangka panjang.

“Kami membicarakan banyak hal bersama, pertanyaannya sangat klasik dan sederhana, tapi saya rasa kalau tidak diselesaikan sekarang, pada saat sudah menikah tentu akan bentrok kalau tidak searah,” ujarnya.

Nikah tapi tetep jadi diri sendiri? Bisa banget!

Di tengah banyak cerita perempuan yang merasa kehilangan jati diri setelah menikah, pengalaman mereka justru berkebalikan.

Buat Amelia, hidup setelah menikah terasa makin stabil karena ia tetap bisa bekerja, bertemu teman, dan tetap menjadi bagian dari keluarga besarnya yang terkenal heboh.

Ia bahkan masih diberi kesempatan sama suaminya buat lanjutin kuliah lagi selagi ada dananya.

Putri juga mengaku tidak merasa berubah jadi orang lain setelah menikah. Suaminya bahkan dukung dia buat tetep hangout sama temen, pakai nanny buat ngurus anak, atau lanjut kuliah lagi seperti yang selama ini dia pengenin.

Suami dia juga peka dengan kebutuhan emosinya, termasuk saat ia merasa lelah menghadiri banyak acara keluarga.

“Pasangan aku tidak membatasi gerak aku dan kami masih bisa menjalani hobi masing-masing, atau bangun relasi dengan teman juga meski sudah nikah,” kata Putri.

Nana pun tetap bisa menjalani hobinya main game tanpa merasa bersalah atau dituntut menjadi sosok istri sempurna.

Yang bikin lucu, dia sama suami sering mabar sebelum tidur, karena dua-duanya hobi nge-game.

“Gue itu nggak bisa masak dari dulu. Ternyata dia nggak ada tuntutan untuk harus bisa masak dan setiap hari, ini bikin gue lebih leluasa sih,” ujarnya.

Sama juga dengan Rosmalia yang tetap bekerja selepas menikah dan merasakan kebahagiaan baru saat mengurus suami tanpa merasa terkekang dan ditekan ekspektasi pasangan.

“Menikah tidak menjadikan diri saya terpaku pada suami. Ia tetap mendukung penuh apa yang saya lakukan,” tuturnya.

So… is marriage scary? Here’s what gen Z thinks

Ngatur hidup setelah menikah itu semacam game level hard mode yang harus dimainkan empat pemain sekaligus, peran sebagai diri sendiri, istri, ibu, dan pekerja.

Tapi empat Gen Z ini nunjukin kalau balance itu bukan mitos. Kuncinya? Ada di komunikasi, proporsi, dan pasangan ngasih support penuh.

Amelia mengingatkan, menikah otomatis menambah peran. Oleh karena itu, identitas pribadi jangan sampai hilang.

Sementara Putri lebih realistis dan ngerasa bahwa keseimbangan yang sempurna tuh sebenarnya nggak ada, dan nggak perlu juga.

“Menurut aku, perempuan setelah menikah itu perannya nggak akan pernah seimbang dan itu gapapa,” ujar dia.

Nggak melulu menyeramkan, pernikahan justru tetap bisa nambah kebahagiaan bagi sebagian orang.

Seperti halnya dengan Rosmalia yang ngerasa hidupnya justru makin kaya secara emosional setelah jadi istri dan ibu, meskipun kadang chaos-nya ada banget.

Lebih lanjut, Nana juga kasih pesen yang agak nampar buat para Gen Z yang takut kehilangan dirinya pas udah nikah.

“Menurut gue Gen Z itu nggak perlu takut kehilangan diri pas udah nikah, asalkan pasangannya selaras sama lo,” katanya.

Dari semua cerita di atas, satu hal paling jelas adalah menikah itu bukan soal mengorbankan hidup, tapi soal menemukan partner yang bikin hidup makin berjalan dengan versi terbaiknya.

Buat yang sudah berkeluarga sambil tetap ngegas di karier, mereka ngebuktiin kalau jadi istri atau ibu bukan alasan buat lupa sama diri sendiri.

Dan buat yang belum menikah, nggak apa-apa banget. Semua orang punya timeline masing-masing.

Kalau nanti udah ketemu orang yang sevisi dan siap bareng-bareng bangun masa depan, ya why not? Yang penting, kamu tetap jadi diri sendiri dan siap ambil langkah besar itu whenever you’re ready.

Katanya Gen-Z nggak suka baca, apalagi soal masalah yang rumit. Lewat artikel ini, PasarModern.comcoba bikin kamu paham dengan bahasa yang mudah.